Minggu, 19 Mei 2019

Berbagi Buku sambil Beramal Jariyah

Assalamu' alaikum

Alhamdulillah, masih semangat berbenah yah puasa-puasa meski melambat, wkwkwkwk..
Setelah berbenah pakaian, akhirnya sampai juga di bagian buku. Horeeee...
Eiya, buat yang senapsaran pengen baca soal berbenah pakaian di minggu lalu, bisa cekidot disini ya.

Kalau ngomongin soal buku, buat saya itu juga termasuk salah satu barang susah untuk dilepaskan, alias dibuang sayang. Namun, lama kelamaan akhirnya jadi numpuk, dan bergelimpangan di sudut-sudut rumah. Oleh karena itu, pada kali ini saya ingin berbagi proses berbenah sekaligus juga bisa jadi amal jariyah lho. Senapsaran? Eitzz sabar...

Nah, menurut Gemar Rapi, tahapan berbenah buku itu...
1. Ingat tujuan yang ingin dicapai, makanya buka kembali jurnal berbenahnya ya.
2. Siapkan beberapa kotak untuk kategori decluttering.
3. Jika diperlukan bisa juga dibuat kriteria khusus, misalnya tahun terbit, buku yang sudah dihapal isinya, dan lainnya.
4. Keluarkan semua buku dari tempat penyimpanannya.
5. Seleksi buku berdasarkan pertanyaan seleksi yang sudah dibuat. (Hayoo masih inget ga?) wkwkwk.
6. Pisahkan buku sesuai kategori yang sudah dibuat.
7. Segera donasikan buku yang layak, dan lainnya yang tak layak dapat disalurkan ke tempat daur ulang.

Menurut Gemar Rapi, tidak ada aturan baku dalam mengelompokka buku yang akan ditata dan disimpan. Oleh karenanya, GR membagi beberapa tips dalam mengelompokkan buku, yaitu berdasarkan

  • warna cover buku.
  • genre buku.
  • urutan alfabet judul buku
  • ukuran buku
  • urutan yang paling disuka
  • dan lainnya... bebas..
Nah, GR juga memberi tips terkait penataan buku, yaitu:
  1. Siapkan 1 tempat/kotak khusus untuk buku-buku yang belom dibaca.
  2. Gunakan sistem rotasi untuk buku anak.
  3. Manfaatkan katalog buku di aplikasi smartphone.

"Mulanya aku menjadi bookworm karena suka dan kebutuhan keilmuan yg dipelajari, untuk belajar menulis harus banyak membaca 😆
Lama kelamaan jadi bibliophile 😂 bahkan untuk buku anak2 pun 🙈
Alhamdulillah ga sampe jadi bibliomania karena dapet hidayah😆, lalu tobat, puasa beli buku, stop beli buku. Salah satu perbaikan ya ikut gemar rapi ☺

Parahnya lagi akhirnya jadi Tsundoku, akibat compulsive buying 😢"


Baiklah, sekarang kembali ke Rumah Daniesta, untuk berbenah bukunya akan diceritakan 2 tahapannya.

Proses Decluttering.
Masih penasaran gimana caranya berbagi yang bisa jadi amal jariyah, yap salah satunya dengan mendonasika buku layak pakai yang kita miliki dalam proses decluttering ini. Mengapa bisa demikian? karena jika buku yang kita donasikan itu membawa ilmu serta manfaat bagi orang lain, maka disitulah insyaAllah ladang amal jariyah kita. Aamiin Allahumma Aamiin... Oke deh, mari kita mulai aja cerita proses berbenah berikut ini...

Pertama, saat decluttering, saya membuat sub-kategori untuk masing-masing buku tersebut, yaitu:
Kategori Buku Saya dan Suami:
  • Buku agama
  • Buku pengasuhan anak
  • Buku hobi (fotografi, kerajinan tangan, resep)
  • Buku keilmuan (komunikasi, keuangan, pekerjaan)
  • Buku komik
  • Buku novel

Kategori Buku Anak:
  • Buku agama
  • Buku keilmuan (sekolah)
  • Buku aktivitas (buku latihan paud/tk)
  • Buku cerita
  • Buku komik
  • Board book
  • Buku bantal (soft book)
  • Majalah

Adapun alasan membuat kategori tersebut, yaitu:
  • Memudahkan mencari buku yang dibutuhkan dan dapat dengan mudah dikembalikan lagi.
  • Memudahkan mengelompokkan buku yang akan dibaca, disimpan dan dideclutter.
  • Mengetahui dengan pasti jumlah buku yang dimiliki individu masing-masing dirumah.
  • Mencegah memiliki buku yang sama.
  • Buku dapat disimpan sesuai dengan kategorinya.
  • Membuat lemari/penyimpanan buku menjadi lebih rapi dan teratur.

Kedua, untuk jumlah buku saya dan suami masih dapat digolongkan kategori normal, alias masih muat masuk lemari buku gitu. Demikian pun dengan buku digital yang jumlahnya sangat sedikit sekali. Bahkan untuk buku digital hanya digunakan saat keperluan kuliah. Usai kuliah, buku-buku tersebut sudah dideclutter. Namun, untuk buku anak-anak ini yang masih overwhelm, ya karena sempat jadi pelaku compulsive buyer huhuhu.. Buku anak-anak sudah punya lemari khusus ada yang di dalam kamar tidur (khusus buku sekolah), di ruang keluarga, di lantai 2, tapi tetap saja buku-bukunya selalu berceceran dimana2, huhuuhu... Bahkan ada yang masih terbungkus plastiknya dan di dalam kardus bahkan koper. Jadinya ya yang kasin anak-anak, jadi susah nyari bukunya, terutam untuk buku non sekolah.

Ketiga, mengingat dan menimbang kegaduhan yang ditimbulkan oleh buku-buku anak yang dibeli karena compulsive buying, maka harus diambil keputusan berat untuk meng-declutter-nya. Sesungguhnya, untuk buku anak sudah mulai dikurangi selama setahun terakhir ini. Tidak beli dan hanya didonasikan. Caranya yang selama ini sudah berjalan, yaitu:

1. Untuk buku baru dijadikan kado atau dijual di online shop.
2. Untuk buku preloved didonasikan pada saudara dan kerabat.

Jika berbenah buku ini  dikaitkan dengan prinsip metode RASA yang terdiri dari Rapi dan Teratur, Aman dan Nyaman, Sehat dan Bersih, serta Alami dan Berkelanjutan. maka kekira dapat dijabarkan seperti ini:
  • Rapi dan Teratur, dimana buku dibaca dan disimpan adalah buku yang disukai dan bermanfaat sesuai fungsinya. Sehingga saya (khususnya), serta suami dan anak-anak dapat mengetahui dengan pasti jumlah buku yang disimpan sesuai subkategorinya. Tidak ada lagi buku yang bertumpuk atau bahkan berceceran diluar lemari. Buku harus mudah dicari dan disimpan kembali.
  • Aman dan Nyaman yang dalam hal ini saya hanya akan memilih buku sesuai dengan kebutuhan dan manfaatnya. Untuk buku anak-anak, saya melibatkan mereka dalam proses meng-declutter-nya. Saya ingin anak-anak benar-benar mengetahui buku apa saja yang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat bagi mereka. Tidak ada lagi buku yang disimpan karena sekedar gambarnya bagus tapi isinya nothing. Kami juga harus belajar melepaskan buku-buku yang sudah rusak dan tidak dapat diperbaiki.
  • Sehat dan Bersih disini yaitu buku yang dipilih untuk dibaca dan disimpan dapat digunakan berkali-kali dan tidak rusak atau kotor. Demikian juga dengan lemari penyimpanannya harus bersih.
  • Alami dan Berkelanjutan dalam hal ini mendonasikan buku-buku (terutama fotokopian) yang sudah rusak supaya bisa didaur ulang. Sementara untuk buku preloved tapi masih layak didonasikan pada saudara dan kerabat. Demikian juga untuk buku yang masih baru bahkan terbungkus plastik, dapat dijadikan kado. Untuk lemari, sementara ini tidak akan nambah lagi. Harus muat dengan lemari yang ada, mengingat kembali tujuan mempunyai ruang baca di rumah.

Proses Organizing
Pertama, dalam menyimpan dan menata buku, sedari dahulu kami meyimpan berdasarkan genre buku (sub-kategori tadi). Untuk tatanannya, biasanya kami menyimpan buku yang memiliki tinggi sama secara berdekatan. Urutannya semakin kepinggir lemari, maka buku semakin tinggi, semakin ke tengah buku semakin pendek. Sebagian besar buku disimpan secara vertikal dengan catatan tinggi rak lemari masih muat. Namun, jika buku lebih tinggi dari dimensi rak dalam lemari, maka buku diletakkan secara horizontal. Secara umum, sebagian besar buku diletakkan di lemari buku yang terletak di ruang baca lantai 2. Hanya beberapa buku yang digunakan secara harian yang diletakkan di lantai 1 seperti di dalam kamar orangtua, anak dan ruang keluarga. Jika proses organizing ini dikaitkan dengan prinsip RASA, maka:
  • Rapi dan Teratur dimana setiap buku berada dalam situasi kondisi yang apik dan terorganisir. Baik saya, suami dan anak-anak mampu mengingat dan mengetahui letak buku pribadi dan buku lainnya yang digunakan bersama (secara umum). Dalam hal ini, di rumah ada pemisahan lemari buku orangtua dan anak-anak. Selain itu, lemari-lemari buku dirumah terbuat dari bahan kayu dengan pintu kaca untuk memudahkan pencarian buku tanpa sering membuka tutup pintunya. Untuk buku yang diletakkan di kamar anak hanya yang berkaitan dengan sekolah. Buku tersebut disimpan dalam lemari meja belajar. Sedangkan di kamar orangtua, lemari buku hanya berisi buku agama dan parenting yang masih dibaca. Buku-buku lainnya terletak di lemari buku di lantai 2.
  • Aman dan Nyaman dimana situasi dan kondisi ini memiliki standar  yang menyesuaikan dengan setiap individu di rumah, terutama dengan adanya dua anak di Rumah Daniesta. Standar tersebut dapat berupa bebas dari bahaya atau gangguan sehingga menimbulkan rasa tenteram dan tidak khawatir atau tidak takut. Dalam hal ini, peletakkan buku menyesuaikan individu yang menggunakannya. Untuk buku anak-anak diletakkan dirak lemari bagian bawah atau yang terjangkau tangan anak. Sementara untuk buku orangtua diletakkan dirak bagian atas dilemari berbeda.  
  • Sehat dan Bersih dimana prinsip ini tentunya harus dapat menjaga setiap individu di rumah dari sakit yang diakibatkan oleh kelalaian individu tersebut. Oleh karenanya, setiap individu di rumah harus selalu menjaga kebersihan baik dirinya serta buku-bukunya. Dalam hal ini, setiap penghuni rumah langsung mengembalikan buku ke lemarinya. Tidak meninggalkan buku tergeletak diatas meja, bangku dan lainnya. Untuk meminimalisir debu, sebagian besar penyimpanan buku, sebagian besar dirumah menggunakan lemari kayu dengan pintu kaca. Hanya ada 1 rak gantung khusus buku anak yang dirolling yang berada diruang tengah. Adapun peletakkan lemari buku tersebut tidak ditempat lembab atau panas. Sirkulasi udara terjaga di dalam rumah dengan cukupnya cahaya matahari yang masuk sehingga tidak merusak buku, meski disimpan di dalam lemari.
  • Alami dan Berkelanjutan yang dapat dimaknai bahwa prinsip ini mengusung untuk menggunakan bahan-bahan yang tersedia dari alam dan mengembalikannya ke alam secara aman dengan tujuan utama untuk meminimalkan sampah. Dalam hal ini, jika ada buku yang rusak tidak langsung dibuang, sebisa mungkin untuk diperbaiki sehingga dapat digunakan lebih lama lagi. Jikalau pun ada buku yang sudah tidak layak dapat didonasikan sesuai tempatnya, tidak asal buang ke tempat sampah yang hanya akan jadi menambah timbunan sampah. Baiknya lagi, jika buku tak layak tersebut dapat dialihfungsikan saja menjadi hal berguna lainnya, seperti pengganti kertas origami, membuat kerajinan dari kertas, dll. 
Kedua, demi menjaga kerapian dan keteraturan dirumah, maka harus dibentuk kebiasaan baik terhadap penataan dan penyimpanan buku-buku tersebut, yaitu:

Harian
  • Saat hendak membaca, hanya mengambil 1-3 buku seperlunya dari lemari.
  • Tidak membuat tumpukan buku yang sedang dibaca di luar lemari.
  • Langsung mengembalikan buku ke tempatnya semula di dalam lemari.
  • Jika belum selesai membaca, tandai buku dengan pembatas buku tanpa melipatnya atau merobeknya.
  • Simpan buku yang masih dibaca ke dalam lemari di kamar tidur.
  • Pastikan tidak ada buku yang tercecer di luar lemari, terutama buku anak.
Mingguan
  • Merotasi buku anak yang berada dirak gantung di ruang keluarga lantai 1.
  • Menyeleksi majalah yang sudah tidak dibaca atau sudah tidak layak untuk didonasikan.
  • Membersihkan lemari dan rak buku.
Bulanan
  • Mengecek kondisi buku dan lemari serta rak penyimpanan.
  • Menyeleksi buku yang dapat dideclutter dan didonasikan.
  • Membersihkan lemari serta rak buku secara keseluruhan.

Demikian kekira rangkuman proses berbenah buku di minggu ini, semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Mohon doanya semoga segera bisa rapi selalu dan istiqomah. Serta buku yang didonasikan dapat menjadi amal jariyah kita, bukan menjadi dosa jariyah jika disimpah dirumah karena hanya ditimbun dan tak terpakai. Ingat Hisab gaessss...

Salam Ramadhan,
semoga kita menjadi alumni Ramadhan yang sukses....


#Task9GP
#gemaripratama
#angkatan1
#klaster1
#gemaribuku
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu
#RASA

Minggu, 05 Mei 2019

Berbenah Sambil Bersedekah Pakaian di Bulan Ramadhan

Assalamu'alaikum

Alhamdulillah sudah memasuki bulan Ramadhan. Bulan penuh berkah dan ampunan. Oleh karena itu ada baiknya jika di bulan ini kita dapat meningkatkan amal ibadah, salah satunya dengan berbagi. Tidak harus barang baru dan mahal yang diberikan, tapi dapat berupa barang yang layak dan bermanfaat. Coba deh dicek ke lemari baju, berapa persen baju yang kamu pakai? Jangan sampai ada yang mubazir tidak terpakai ya gaesss.. Hanya akan memberatkan hisabmu di akhirat kelak. *ngomongsamadirisendiri...


Oiya, sebelum sharing soal berbagi pakaian di bulan Ramadhan ini, mau kasih laporan sedikit soal progress berbenah minggu lalu. Ya... meskipun proses berbenah berjalan lambat dan terkadang dipaused, tapi masih terus bergerak untuk berbenah. Dapur yang meliputi kitchen set, kulkas serta freezer sudah rapi jali. Kulkas 2 pintu sudah dibersihkan dan diisi kembali dengan bahan-bahan sesuai food preparation, sedangkan kulkas 1 pintu yang dipakai untuk menyimpan produk dairy sudah ditata peletakannya bahan-bahannya. Untuk freezer bukaan depan juga sudah ditata dan diisi kembali sesuai dengan bahan-bahan food preparation untuk sebulan. Kalo mau baca berbenah dapur sebelumnya bisa cekidot disini ya.


Pada Senin (29/4/2019), lalu waktu bagian Gemar Rapi sudah memasuki waktu bagian berbenah Pakaian. Menurut materi, pakaian adalah bahan tekstil dan serat yang digunakan sebagai penutup tubuh. Selain itu, pakaian juga merupakan kebutuhan pokok manusia selain makanan dan tempat berteduh/tempat tinggal (rumah). Adapun yang termasuk pakaian, yaitu:

  1. Atasan (kaos, kemeja, gamis, sweater).
  2. Bawahan (rok, celana).
  3. Pakaian yang digantung (jaket, coats, jas, blazer).
  4. Kaos kaki.
  5. Pakaian dalam.
  6. Tas
  7. Aksesoris (kerudung, syal, topi, ikat pinggang).
  8. Pakaian untuk tujuan khusus (baju renang, seragam, baju adat, dsb).
  9. Sepatu.
  10. Sprei, sarung bantal, handuk, lap dan keset.

Nah, menurut tim kurikulum GR, ada 2 proses berbenah pakaian, yaitu:
  1. Keluarkan semua pakaian yang ada di rumah, lalu letakkan di satu area tertentu. Bila jumlahnya berlebihan, bisa dibagi menjadi beberapa subkategori, misalnya merapikan atasan dulu, bawahan, dst. Oiya, untuk pakaian yang sedang dipakai dan dicuci atau dijemur bisa dilewatkan dulu ya. Dikerjakan jika sudah tidak dipakai atau dicuci/jemur.
  2. Kerjakan berdasarkan prioritas, tidak mengeluarkan semua pakaian. Misalnya ada pakaian yang tercecer di luar lemari, maka lemari dapat dibenahi, lalu lakukan clutter hingga semua pakaian masuk di lemari.

Dalam berbenah pakaian, GR kembali mengingatkan untuk selalu mengusung prinsip RASA dalam decluttering dan organizing pakaian, yakni kekira begini isinya menurut bahasa saya ya:
  • Rapi dan Teratur, dimana pakaian digunakan secara teratur, diketahui jumlahnya dan jenisnya, dan membuat hidup lebih rapi.
  • Aman dan Nyaman yang dalam hal ini terkait bahan, model dan harga pakaian. Jangan kebawa nafsu beli pakaian branded wat gaya tapi mihilnya sampe ngutang tetangga, tapi pas dipake gerah nan ga pantes di body. wkwkwkwk..
  • Sehat dan Bersih disini yaitu tidak mengganggu sirkulasi kerja tubuh, termasuk mampu menyerap keringat dengan baik.
  • Alami dan Berkelanjutan yang mana meskipun pakaian overload yang berlebihan itu dihempaskan, jangan sampai jadi beban orang lain atau alam semesta ini. Misalnya didaur ulang, di-repurpose, dll. Jangan dzalim gaesss.... Ingat hisab!



Tim GR juga ngasih tips buat decluttering pakaian, baiknya dikategorikan (dibagi) menjadi beberapa kotak berikut:
  1. Simpan (keep) yang emang beneran dipake, baik itu harian atau waktu tertentu.
  2. Buang (toss) pakaian rusak pada yang syukur-syukur bisa mendaur ulangnya.
  3. Donasikan (donate) pakaian layak pakai pada yang membutuhkan.
  4. Didaur ulang (recycle) yang butuh kemampuan dan teknik tingkat tinggi nih gaess.
  5. Diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat (repurpose dan upcycle), misalnya celana jeans jadi tote bag untuk belanja, kaos jadi lap, dsb.
  6. Dijual (sell), yak sambil menyelam minum air, sambil declutter dapet uwit tapi jangan buat beli clutter again yak.. wkwkwk..

Tips berbenah Pakaian ala Gemar Rapi:
  • Bila saat decluttering sangat kesulitan untuk memutuskan nasib si pakaian, maka bisa digunakan pertanyaan untuk diri sendiri, misalnya bener suka apa cuma main-main? beneran dipake? kapan terakhir dipake? punya tempat buat nyimpennya ga? dan lainnya. Silahkan dibikin daftarnya jika diperlukan, biar ga galau.
  • Baiknya jangan menyimpan dengan kategori "jika", misalnya, "Jika badanku kembali ke bentuk semula, nanti bisa dipake", "Jika kulitku bisa seputih susu, nanti juga cucok dipake" Lhaaa.. banyakan haluuu-nya.. mending buruan putuskan nasibnya, jangan mem-PHP-kan diri sendiri, hahaha.
  • Perlu setrika pakaian? Sesuaikan dengan kebutuhan ya gaesss. Kami sendiri dirumah, kadang kalo lagi sibuk banget *caelah... kadang pake baju langsung dari jemuran tanpa disetrika. Sama koq angetnya, lha hahahaha...
  • Untuk berbenah pakaian anak, harap dampingi ananda ya, terutama bagi yang masih belajar dalam membuat keputusan. Jangan sampe mereka salah arah kaya ortunya, wkwkwkwk...
  • Pakaian kenangan? Ada, hmmm akan dibahas suatu hari nanti ya, sementara pisahkan dulu yaa...

Teknik Melipat ala Gemar Rapi
Tidak ada melipat yang sempurna, karena melipat itu termasuk salah satu kerajinan tangan, heuheuheu... Oleh karenanya, pakailah teknik melipat yang memudahkan dan menyesuaikan dengan kemampuan tangan sendiri dan juga bentuk lemari ya gaesss. Nggak usah pikirin apa kata netijen diluaran sana kalo lipatanmu kurang rapi, kurang simetris, dan lainnya. Emangnya mereka mau bantuin kamu berbenah? Nggak kan, makadar santei waee....



Kembali ke Rumah Daniesta, dalam berbenah pakaian menyambut bulan Ramadhan, kekira begini prosesnya:

Proses Decluttering
Pertama, untuk pakaian di rumah, terutama pakaian saya sendiri, saya membuat 7 sub kategori pakaian, yaitu:
  1. Pakaian rumah yang biasanya digunakan untuk beraktivitas harian dirumah, termasuk memasak, yaitu celana panjang dan kaos oblong, gamis kaos atau daster, dan juga alas kaki berupa sendal jepit.
  2. Pakaian tidur yang hanya digunakan untuk tidur dirumah atau saat bepergian, berupa celana panjang dan kaos yang sama ketika dipakai dirumah, dan piyama.
  3. Pakaian kerja yang digunakan saat ke kantor, berupa seragam kerja yang terdiri dari kemeja putih dan rok hitam, blazer hitam, sepatu pantofel hitam, sepatu slip on hitam.
  4. Pakaian olahraga yang digunakan hanya untuk olahraga, seperti lari dan berenang, yaitu baju renang, celana training dan kaos training (kaos oblong lengan panjang), serta sepatu olahraga.
  5. Pakaian hari khusus yang digunakan untuk kegiatan tertentu mulai dari kondangan, pengajian, seminar, workshop, berupa gamis (katun, satin sutra, dsb), baju kebaya dan kain tenun/batik.
  6. Pakaian ibadah harian dan traveling, mukena dan sajadah harian, serta mukena parasut dan sajadah lipat traveling.
  7. Pakaian traveling yang digunakan saat bepergian sebagian besar berupa sweater, long coat, jaket tebal.
Subkategori tersebut juga dipakai untuk mengklasifikasikan pakaian suami dan anak-anak. Dengan membuat subkategori pakaian tersebut, banyak hal positif yang dirasakan. Alasannya, yaitu:
  • Subkategori pakaian turut menentukan lokasi dan cara pakaian tersebut disimpan.
  • Mudah mencari pakaian sesuai kebutuhan.
  • Mudah dalam menentukan jenis perawatan yang diperlukan masing-masing pakaian tersebut.
  • Membuat tempat lemari menjadi lebih rapi dan teratur.
  • Pakaian yang digunakan sesuai kategori dan fungsinya menjadi lebih awet masa pakainya.
Sementara untuk kaos kaki, pakaian dalam, seprei, sarung bantal, lap, dan keset tidak dibagi lagi ke dalam subkategori. Pemakaiannya seperti biasa, diputar secara bergantian, biar adil en ga ada yang iri. hahaha..

Kedua, untuk tas, aksesoris dan sepatu saya juga membaginya ke dalam subkategori yang tujuh tadi. Namun, meski sudah dibagi ke dalam subkategori tadi, tas, sepatu dan aksesoris justru juga menjadi salah satu penyebab clutter karena jumlahnya berlebihan. Yaiya gimana nggak, wong dulu demennya jadi pembeli pemburu diskon, huhu, udah tobat. wkwkwk..


Untuk tas siy Alhamdulillah jumlahnya udah pas, karena memang dipakai sesuai subkategori tadi, jumlahnya juga ga banyak, karena untuk 1 tas bisa dipakai beberapa subkategori keperluan tadi. Saya juga bukan termasuk yang penghobi koleksi tas, beli baru pun jika yang lama sudah rusak. Alhamdulillah 1 tas bisa bertahan 1-2 tahun. Termasuk tas dan koper untuk bepergian juga yang memang itu2 saja, dan diganti jika sudah rusak.

Sementara untuk sepatu, disini ini mulai keliatan berantakan, karena saat menjadi compulsive buyer dulu, jadi kepincut kepingin punya beberapa, padahal yang dipake masih bagus. Walhasil, jadilah lemari sepatu ga kuat nampungnya dan akhirnya berceceran sampe keluar. Akhirnya, distop deh perilaku buruk itu, dan kembali mengumpulkan dan menyatukan niat dengan menyortir sepatu yang benar-benar dibutuhkan, dan donasikan jika memang sudah tidak dipakai.
Selanjutnya ada jilbab yang termasuk aksesoris pembuat clutter dirumah, wkwkwk. Bahkan jumlahnya, mungkin bisa melebihi jumlah baju. *istigfar *korbanlapermata. Mulanya muat disimpan dalam lemari, tapi lama kelamaan beberapa jilbab ada yang tersimpan di kardus di gudang, huhuhu... Jilbab pun akan dikurangin jumlahnya demi menciptakan kerapihan yang haqiqi.

Sekardus pakaian yang akan didonasikan
untuk ART dan Tukang Sampah
Ketiga, Mengingat dan menimbang situasi kondisi pakaian yang berceceran atau bertumpuk, maka saya perlu meng-clutter pakaian. Lalu untuk mengatasinya, maka saya melakukan cluttering terhadap pakaian berlebih tersebut sesuai seleksi kriteria pada jurnal berbenah yang tentunya dikaitkan dengan prinsip RASA, berupa:
  • Rapi dan Teratur, dimana pakaian yang digunakan adalah pakaian yang dibutuhkan sesuai fungsinya. Sehingga saya dapat mengetahui dengan pasti jumlah pakaian yang disimpan sesuai subkategorinya. Dengan demikian pakaian tidak ada lagi yang bertumpuk atau bahkan berceceran diluar lemari, sehingga mudah dicari dan disimpan kembali.
  • Aman dan Nyaman yang dalam hal ini saya hanya akan memilih bahan dan model pakaian yang sesuai dengan kebutuhan dan berfungsi dengan baik, yaitu kebanyakan dari katun dan kaos dengan model sederhana/simpel dan polos dengan warna bold tanpa ada cacat/rusak sedikit pun. Sehingga tidak adalagi pakaian cantik yang ngendon di lemari karena tidak nyaman saat digunakan, atau pakaian nyaman tapi tidak aman karena bolong sikit tapi dibuang sayang, dibetulin males. wkwkwk...
  • Sehat dan Bersih disini yaitu pakaian yang dipilih untuk disimpan dapat digunakan beraktivitas tanpa ada gangguan, tidak kesempitan dan menyerap keringat dengan baik.
  • Alami dan Berkelanjutan dalam hal ini pakaian yang berlebihan, hanya beberapa jilbab saja yang akan dialihfungsikan menjadi jilbab instan untuk anak-anak. Sementara pakaian lainnya sudah dikategorikan sesuai fungsinya dan siap didonasikan dengan pembagian kriteria kotaknya. Untuk storage, sementara ini tidak akan nambah baru, jika dirasa kurang akan memodifikasi mandiri storage yang sudah ada dengan bahan yang terseddia dirumah, seperti kardus.
Proses Organizing
Pertama, untuk pakaian yang masih dipakai sudah disimpan kembali di lemari. Sementara untuk pakaian yang dihempaskan, dibagi menjadi 3 kotak sebagai berikut:
  1. Buang (toss) untuk pakaian rusak yang sudah tidak bisa dibenerin lagi (dijahit lahi) karena memang sudah belel (tepo) bahannya.
  2. Donasikan (donate) pakaian layak pakai.
  3. Diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat (repurpose dan upcycle) dan beneran dipakai, misalnya jilbab saya menjadi jilbab instan anak-anak.
Pakaian yang rusak akan dibuang/dititipkan pada tukang sampah langganan. Sementara untuk pakaian (baju, sepatu, dan tas) yang didonasikan, akan ditujukan ke: 
a. Keluarga: adik dan ponakan. b. Kerabat: ART & tetangga sekitar rumah. c. Tukang sampah/pemulung.

Adapun untuk pelimpahan pakaian ini sudah berlangsung sedikit demi sedikit sejak beberapa bulan lalu. Sebagian pakaian saya, dan beberapa sepatu anak-anak sudah didonasikan pada adik-adik (mereka mememilih sesuai kebutuhan). Lalu, sisanya nanti akan diberikan pada ART dan tukang sampah. Semoga bermanfaat bagi mereka di bulan Ramadhan ini. Saya menargetkan sebelum lebaran tahun ini, pakaian clutter tidak ada lagi di rumah. Untuk pakaian yang akan direpurpose berupa jilbab segiempat dan pasminah sementara akan disimpan dalam lemari dan dicicil sedikit demi sedikit diubah menjadi jilbab instan anak-anak (karena memang jilbab). Jumlahnya juga tidak banyak, hanya sekitar 10 buah. Target pengerjaannya nanti saat libur lebaran/sekolah anak-anak.



Handuk Anak-anak di laci.

Kedua, pakaian yang sudah disimpan dan ditata dilemari, masih menggunakan metode lipat dan disimpan seperti biasa ya mengingat bentuk lemari di Indonesia pada umumya. Teknik melipat dan menyimpan di lemari untuk pakaian saya, suami dan anak-anak menggunakan:


  1. Teknik digantung untuk pakaian kerja dan seragam sekolah yang digantung perset dengan 1 gantungan terdiri dari 1 kemeja dan 1 rok. Begitu juga untuk beberapa baju adat, seperti kebaya yang digantung perset dengan kainnya, dan gamis dengan bahan licin (satin/sutra).
  2. Simpan susun tinggi seperti biasa untuk pakaian rumah, tidur dan olahraga, dan beberapa kain tenun/batik, serta pakaian hari khusus yang terbuat dari katun. Pakaian ibadah juga disimpan susun tinggi, tapi di lemari khusus.
  3. Lipat susun berjajar saya gunakan untuk jilbab, handuk dan lap/serbet didapur.
  4. Digulung untuk legging, dan kaos kaki.
  5. Dikemas dengan zipper bag saya gunakan untuk pakaian khusus yang dipakai acara tertentu dan mudah rusak. Serta juga dipakai untuk menyimpan bedcover.
Lap/Serbet di Laci Kitchen Set
Secara keseluruhan, berbenah pakaian saya sudah hampir selesai, karena beberapa tinggal menata kembali. Demikian juga dengan pakaian suami saya. Namun, untuk pakaian anak-anak masih berada pada tahap sortir mensortir pakaian selama Ramadhan ini.

Semoga segera selesai sebelum lebaran, biar kami sekeluarga dan rumahnya beneran kembali fitri. Inget ya gaesss, berbagi ga bikin rugi, apalagi di bulan Ramadhan ini.

Selamat berpuasa buat mantemans semua, semoga kita semua menjadi almuni Ramadhan yang sukses. Aamiin...


#Task8GP
#gemaripratama
#angkatan1
#klaster1
#gemaripakaian
#menatadirimenatanegeri
#gemariclass
#metodegemarrapi
#indonesiarapi
#serapiitu
#segemariitu
#RASA