Jumat, 15 Maret 2019

4 Langkah Awal Menjadi Agen Anti Clutter

Assalamu'alaikum

Alhamdulillah, udah memasuki minggu kedua materi Gemar Rapi. Alhamdulillah juga, tugasnya udah diumumin dan harus dikerjain. wkwkwk..

Semangat gaesss...
Biar jadi penyemangat, bisa baca tentang 13 Alasan untuk Bangkit disini ya.


Alkisah, pada Senin (11/3) lalu, Gemar Rapi menyampaikan materi kedua dengan tema, jeng-jeng-jeng.... 
Pilar-Pilar Gemar Rapi. Secara keseluruhan, ada 8 pilar Gemar Rapi, tapi demi mempermudah peserta belajar memahaminya, maka penyampaian pilar dibagi menjadi dua kloter. Untuk keempat pilar pertama tersebut, mari kita simak berikut ini Pilar-Pilar Gemar Rapi (Bagian I):
  1. Dilakukan oleh pemilik barang (owner) karena pada dasarnya, decluttering merupakan kegiatan sekaligus tanggung jawab masing-masing individu. Selain itu, nilai barang tersebut juga berkaitan erat dengan pemiliknya. Menurut GR, setiap benda yang disimpan di rumah dapat dinyatakan bermakna ketika pemiliknya menggunakannya sesuai fungsi, merawat serta menghargainya, tidak diabaikan & dilupakan. Ada tip dari GR, biar pemilik barang tidak kebingungan, bisa juga dibuat daftar (list) barang.
  2. Penguatan mindset sebagai pondasi awal. Pasalnya, semua hal yang berkaitan dengan proses berpikir (kecerdasan, pengambilan keputusan dan kebiasaan) berkaitan erat dengan pola pikir (mindset) tersebut. Tim GR membagi pola pikir tersebut menjadi 2, yaitu pertama Mindset Tetap (Fixed Mindset) dimana sudah memiliki sifat yang sudah ditetapkan dengan melakukan pembuktian diri terus menerus. Hal ini dapat membuat pelakunya menjadi enggan dan malas  mempelajari hal baru. Kedua, Mindset Tumbuh dimana kualitas seseorang dapat diolah melalui upaya tertentu, yaitu melalui pembelajaran dan pengalaman. Pola pikir ini dapat berkembang saat mengalami masa paling sulit. Ya itu tadi, karena adanya kemauan dan kemampuan untuk belajar dan berkembang. Terkait kemampuan, GR membaginya lagi menjadi dua, pertama Kemampuan Tetap (Fixed Ability) yang mana kemampuan ini harus dapat dibuktikan dengan jelas. Kedua, Kemampuan yang Bisa Diubah (Changeable Ability) yang mana kemampuan ini dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran.
  3. Perubahan kebiasaan sebagai tujuan (habit). Iya, berbenah bukan menjadi ajang dadakan semata, tapi juga harus mampu mengubah pola pikir, gaya hidup dan kebiasaan si pelaku berbenah. Hal ini berhubungan dengan tujuan akhir dari berbenah, yaitu menuju kebiasaan yang lebih baik dalam segala hal. 
  4. Pengurangan barang dengan prinsip lagom (decluttering)Lagom berasal dari bahasa Swedia yang menurut Lexin dalam kamus Swedia-Inggris berarti "enough, sufficient, adequate, just right" . Lagom memiliki makna cukup, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Lantas adakah standar atau indikator yang menentukan batasan cukup tersebut? Tentu saja ada, si empunya barang yang menentukan hal tersebut. Proses decluttering diperngaruhi oleh gaya hidup yang mana harus dapat membedakan antara kebutuhan atau keinginan. Mengutip GR, sederhana itu aset, berlebihan itu beban. Semakin sederhana barang yang dimiliki, maka akan semakin mampu memberi nilai maksimal pada barang tersebut. Oleh karenanya, tidak perlu menambah barang yang tidak memberi nilai pada hidup kita.
Lalu, bagaimana keadaan Rumah Daniesta jika dikaitkan dengan keempat pilar tadi? Sungguh jauuh sekali tentunya. Maka dari itu, demi memenuhi tugas kedua Gemar Rapi dan demi kerapian bin keteraturan yang hakiki menuju rumahku surgaku, penghuni Rumah Daniesta berusaha mem-break down satu-persatu pemikiran kami terhadap empat pilar tersebut. Bisa dibilang, ini merupakan empat langkah awal menjadi agen anti clutter.

Pertama, setelah membaca, meresapi, menimbang dan mengingat (*mulai lebay), Rumah Daniesta yang dihuni oleh 2 orang dewasa dan 2 anak-anak ini, menyatakan sangat sepakat terhadap pilar pertama. Suami siy udah bilang Iyes, kalo anak-anak mah ya ikut aja dibilangin ini itu, haha. Proses berbenah harus dilakukan oleh pemilik barangnya sendiri. Tentu saja, untuk barang anak-anak harus dibantu oleh kami selaku orangtua. Mengingat anak-anak masih berumur 7 tahun dan 4 tahun yang memang masih butuh pendampingan dan arahan. Ketika saya menyatakan akan hijrah, menjadi lebih baik, Alhamdulillah suami sepakat untuk bersinergi bersama. 


Cita-cita: Kursi Baca
 "Anak-anak udah mulai ga fokus, soalnya kita kebanyakan beliin barang. Sampe-sampe susah dicarinya. Disitu masalahnya."

Begitu kira-kira omongan saya ke suami saat awal tahun 2019. Kami harus berubah. (Bukan Baja Hitam ya gaesss.. hahaha). Tidak hanya sependapat dengan pilar pertama tersebut, kami juga akan mempraktekkannya. Tentunya prosesnya bertahap, tidak langsung nyah nyoh noh noh tuh tuh bin ujug-ujug. Sesibuk apapun kegiatan keseharian, kami bersepakat untuk membuat Rumah Daniesta tambah nyaman dan aman untuk dihuni. 
Cita-cita: Ruang Tamu Minimalis

Oiya, cerita sedikit, dahulu sekali, kami pernah berbenah dengan sistem saling silang. Maksudnya disini, saya menyeleksi barang-barang suami yang sudah tidak dipakai, tidak dilihat, bahkan sudah dilupakan olehnya. Demikian juga sebaliknya. Dampak positifnya adalah ini dapat mengurangi "ketidaktegaan" dalam menghempaskan barang yang akhirnya ditimbun kembali. Akan tetapi, ini juga berefek negatif, karena proses berbenah kurang teratur karena ketidaktahuan akan barang-barang yang di-declutter. Daaan... apalagi jika selesai berbenah, ternyata tidak semua barang di-declutter, ada barang yang masih dibutuhkan dan harus disimpan, maka akan dapat memunculkan kembali chaos ketika menaruhnya di storage. Soalnya yang merapikan dan menyimpan barang tersebut bukan si empunya. Ga efektif banget kan. wkwkwk... Sooo please, jangan ditiru ya..

Jadi, fokus, balik lagi ke realitas, bahwa berbenah harus dilakukan pemilik barangnya sendiri. Nah, gimana kalo jadwal berbenah udah dibuat, tetiba suami atau anak-anak mandek? Atau bahkan saya yang mandek? Ingat hisab itu berat, ga akan ada yang kuat. Masih mandek? Ingat Firman Allah:



إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(Q.S. Ar-Ra’d:11)

Tapi, jangan cuma diinget-inget doang gaesss.. harus ada tindakan nyata. Jadwal berbenah yang sudah dibuat harus dikerjakan bersama-sama, atau ya  tetap bergerak maju meskipun sendirian. Tentunya dimulai dengan merapikan pola pikir sendiri, lalu bergerak merapikan barang-barang pribadi. Bagaimana jika penghuni rumah lainnya masih tidak berminat? Keep Move On sambil selalu berdiskusi soal pola pikir berbenah, sambil dicontohin, dan terakhir didoain. Hanya Allah SWT yang mampu menggerakan hati hamba-Nya. Lalu, apa saja langkah nyata untuk Keep Move On :
  • Buat jadwal berbenah yang berisi pembagian tugas berbenah, mulai dari jenis barang dan ruangan, tempat storage yang dipakai, hingga deadline selesai berbenah.
  • Lakukan jadwal berbenah sesuai kesepakatan. Jika ada yang sibuk atau sampai mandek, maka harus saling mengingatkan dan tetap kerja sama.
  • Jika suami benar-benar tidak ada waktu untuk bebenah sesuai jadwal, maka dapat didelegasikan kepada saya. Demikian sebaliknya. Tentunya, suami harus membuat daftar barang dan tempat penyimpanannya. Keputusan tetap ada ditangan si pemilik barang, mau dihibahkan, didaur ulang atau dihempaskan.
  • Untuk berbenah barang milik anak-anak, sebaik-baiknya perbuatan orangtua adalah dengan mengomunikasikannya, mencontohkannya dan memandunya. Lelah? Iya memang, tapi kalau ikhlas maka akan menjadi Lillah dan ringan dijalankan.
  • Barang-barang yang dirapikan harus dikategorikan menjadi empat, yaitu disimpan karena butuh, dihibahkan, didaur ulang atau dihempaskan karena rusak.
  • Buat daftar barang yang disimpan dirumah sesuai kebutuhan berdasarkan fungsi ruangan.
  • Siapkan storage yang layak dan sistem penyimpanan teratur yang diketahui masing-masing pemilik barang menyimpan barang yang dibutuhkan.
  • Untuk barang-barang yang dapat didaur ulang atau dialihfungsikan, maka harus benar-benar dipastikan kemanfaatannya.
  • Buat daftar penerima donasi barang-barang layak pakai yang dihibahkan.
  • Pastikan saat menghempas barang yang rusak, jangan sampai ada yang menjadi limbah yess.

Kedua, setelah mendalami pilar kedua Gemar Rapi yang merupakan pondasi awal dari berbenah, yaitu penguatan pola pikir, maka jadi teringat akan seruan Allah SWT melalui Nabi Musa A.S. pada Firaun,

فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَى أَن تَزَكَّى

Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?”
(Q.S. An-Nazi’at:18)

Astagfirullahaladzim, hampuni hamba Ya Allah. Hamba tidak ingin berada dalam kesesatan dan kegelapan terus menerus. Hamba ingin menjadi pembelajar demi menjadi manusia yang lebih baik lagi. Maka kekira begini hasil introspeksi kami terhadap pola pikir lama yang kurang tepat itu:

  • "Nanti akan dipakai" atau "Dibuang sayang".
  • "Terlalu menyayang-nyayang nilai historis suatu barang meski sudah tak berfungsi."
  • "Dirapikannya nanti sesudah yang ini yang itu rapi".
  • "Murah, nanti ga akan ada diskon lagi". 
  • "Sayang anak, kapan lagi kalo enggak sekarang."
  • "Nggak apa-apa banyak barang, yang penting nyimpennya rapi."
Ternyata, itu semua hanya tinggal cerita gaesss... Akhirnya, setelah taubat dan mengikutin Gemar Rapi, harus ada perbaikan dalam berpikir. Adapun Pola Pikir Baru itu berupa:
  • Ingat Hisab. Setiap hal akan ada perhitungannya dengan Sang Pencipta.
  • Dunia ini cuma tempat singgah, tak ada satu pun milik kita di dunia ini kecuali 'tiga perkara'.  
  • Waktu yang dikira "Nanti" itu tidak akan pernah datang.
  • Berbenah sekarang atau menyesal kemudian.
  • Punya karena butuh bukan karena mau.
  • Banyak barang itu beban.
  • Masih galau, balik lagi ke poin awal.

Ketiga, menilik pilar ketiga Gemar Rapi, yaitu tentang mengubah kebiasaan (habit), tentunya pola pikir lama yang menyesatkan tersebut, tentunya juga menimbulkan kebiasaan lama yang tidak baik, seperti: 
  • Menumpuk benda dengan alasan, "Nanti akan dipakai" atau "Dibuang sayang".
  • Menunda berbenah ketika ada satu barang yang berantakan dengan dalih, "Dirapikannya nanti sesudah yang ini yang itu rapi".
  • Menimbun barang yang dibutuhkan (seperti daily needs) tanpa tahu akan diletakkan dimana.
  • Membeli barang diskonan dengan alasan "Murah, nanti ga akan ada diskon lagi". 
  • Membelikan berbagai macam jenis mainan anak.
Daaaan... itu semua hanya meninggalkan "keberantakan" yang abadi dirumah. Lalu, kebiasaan positif apa saja yang harus ada sebagai langkah nyata dari pola pikir yang lebih baik:
  • Tidak konsumtif, hanya beli barang sesuai kebutuhan.
  • Tidak menimbun barang kebutuhan, dan beli sesuai yang hendak dipakai.
  • Berpikir lagi.. lagi.. dan lagi, saat hendak menemui barang kesukaan yang diskon.
  • Membuat daftar kategori barang beserta fungsinya.
  • Menyimpan barang sesuai dengan fungsi ruangan, serta membuat daftarnya.
  • Meminimalkan sampah.
  • Usahakan membuat mainan sendiri dengan peralatan dirumah.

Keempat, sesuai dengan pilar keempat Gemar Rapi, yaitu Lagom, boleh saja menyimpan barang tentunya sesuai kebutuhan. Barang yang dimiliki pun hanya secukupnya, tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Misalnya, saat menemukan ada diskon sabun mandi di online shop dan free ongkos kirim, jangan langsung klik beli sebanyak-banyaknya. Tapi ditimbang-timbang lagi, beli sesuai kebutuhan untuk berapa lama, dan sesuai dengan besaran storage.

Barang-barang yang dibutuhkan dan dimiliki harus benar-benar memberikan nilai pada kehidupan keseharian. Jika tidak ada nilainya dan tidak bermanfaat, maka jangan dimiliki. Rasanya ini seperti kembali saat dulu sewaktu masih sekolah dan kuliah. Barang yang saya punya adalah yang dibutuhkan, diganti hanya saat barangnya rusak atau sudah tidak berfungsi. Mulai dari tas, sepatu, hingga jam tangan, hanya itu-itu saja yang dipakai dan bisa dirawat dengan baik. Semakin sedikit barang yang dimiliki, semakin sedikit hisab, semakin mudah mengingat barang dan semakin maksimal merawatnya.



#Task2GP #gemaripratama #angkatan1 #kelas5 #menatadirimenatanegeri #gemariclass #metodegemarrapi #berbenahalaIndonesia #indonesiarapi #serapiitu #segemariitu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar