Tampilkan postingan dengan label Mengenal Rasūlullāh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Rasūlullāh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 7) - Rasūlullāh hallallāhu ’alayhi wa sallam Adalah Rasul Terakhir

Selasa, 19 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3
Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 7)



Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Adalah Rasul Terakhir 
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang “Mengenal Beliau sebagai Rasul Terakhir”.

Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam meninggal pada tahun ke-11 Hijriah setelah menyempurnakan tugas menyampaikan risalah dari Allāh.
Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam meninggal dunia sebagaimana manusia yang lain yang juga meninggal dunia.

Allãh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ
“Setiap jiwa akan merasakan kematian.”
(Q.S. Āli ‘Imrān: 185)


Dan Allãh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ۬ وَإِنَّہُم مَّيِّتُونَ
“Sesungguhnya engkau akan meninggal dunia dan mereka akan meninggal dunia” 
(QS Az Zumār: 30 )



Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Rasul terakhir, tidak ada Rasul sepeninggal Beliau.

Allãh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ۬ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ
“Bukanlah Muhammad bapak salah seorang laki-laki di antara kalian, akan tetapi Beliau adalah Rasūlullāh dan penutup para Nabi.”
(Q.S. Al Ahzab: 40)


Dalil-dalil dari hadits Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Beliau adalah Nabi terakhir mencapai derajat mutawatir.


Dan sebagian ulama mengatakan;
◆ Kalau seseorang tidak mengetahui bahwa Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Nabi terakhir maka dia bukan Muslim, karena ini termasuk perkara yang diketahui secara darurat di dalam agama Islam.

Di antara hadits yang menunjukkan bahwasanya Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Nabi yang terakhir adalah sabda Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

وإِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيُّ وَأَنَا خَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ لَا نَبِيَّ بَعْدِي


“Sesungguhnya akan ada di antara umatku 30 orang pendusta, semuanya mengaku menjadi Nabi dan aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd)


Dan di dalam sebuah hadits yang Mutaffaqun ’alaih, Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وأنا العاقِبُ الَّذي ليسَ بعدَه نبيٌّ
“Dan aku adalah Al ‘Āqib (yang terakhir) yang tidak ada setelahnya Nabi.”


Meskipun Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam meninggal dunia, Allãh Subhānahu wa Ta’āla akan menjaga agama ini dengan menjaga sumbernya yaitu Al Qurān dan juga Al Hadīts dan menyiapkan para ulama yang amanat untuk menyampaikan keduanya kepada umat.

Allãh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُ ۥ لَحَـٰفِظُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Qurān dan sesungguhnya Kami akan menjaganya”
(Q.S. Al Hijr: 9)


Dan Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ
“Dan sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham akan tetapi mereka mewariskan ilmu.”
(HR Abū Dāwūd, Tirmidzi dan Ibnu Mājah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullāh)


Dan ini adalah halaqah yang terakhir dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan sampai bertemu kembali pada silsilah berikutnya yaitu Silsilah yang ke-4 tentang “Mengenal Agama Islam”.

Senin, 18 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 6) - Inti Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam

Senin, 18 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3
Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 6)



Inti Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-6 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang “Mengenal Inti Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”.
Inti dakwah Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah sama dengan inti dakwah Nabi-nabi sebelum Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Yaitu mengajak manusia untuk meng-Esa-kan Allāh di dalam ibadah dan meninggalkan kesyirikan.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku, maka hendaklah kalian menyembah-Ku.”
(Q.S. Al Anbiya: 25)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Nūh, Rasul yang pertama:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
“Sungguh Kami telah mengutus Nūh kepada kaumnya maka dia berkata, ‘Wahai kaumku sembahlah Allāh, kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia’.”
(QS Al A’rāf: 59)

Ucapan yang semakna juga diucapkan oleh Nabi-nabi setelah Beliau.
Lihat Surat Al Araf: 65, 73 & 85.
Demikian pula Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, selama 10 tahun pertama, Rasulullah berdakwah kepada tauhid dan mengingatkan manusia dari kesyirikan.
Kemudian turunlah kewajiban shalat 5 waktu pada tahun ke-10 kenabian dan tidak disyariatkan kebanyakan syariat kecuali di kota Madinah.
Ketika manusia sudah memiliki aqidah yang kuat (tauhid yang benar), seperti puasa Ramadhān, zakat, haji, adzan dan lain-lain.
Yang demikian karena amal ibadah tidak diterima oleh Allāh kecuali bila dalam diri seseorang ada tauhid.
Oleh karena itu, wasiat Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada Mu’ādz bin Jabal ketika mengutusnya ke Yaman untuk berdakwah adalah:
“Hendaknya engkau mengajak kepada syahādat “لا إله إلا الله” dan syahādat “محمد رسول الله.”
(HR Bukhāri dan Muslim)

Dan sampai akhir hayat Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, Beliau berusaha menjaga tauhid dan membentengi umat dari kesyirikan.
Lima hari sebelum Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam meninggal dunia, Beliau mengingatkan umat Islam bahwa orang-orang sebelum mereka dahulu menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah atau masjid.
Maka Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam melarang menjadikan kuburan sebagai masjid.
(H.R. Muslim)
Yang demikian karena membangun masjid di atas kuburan adalah pintu menuju kesyirikan. Semua ini menunjukkan bahwasanya inti dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah Tauhid.




Bersambung

Jumat, 15 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 5) - Rasūlullāh Membawa Tata Cara Beribadah Dari Allāh

Jum'at, 15 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3
Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 5)





Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Tata Cara Beribadah Dari Allāh 

Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-5 dari Silsilah Mengenal Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah “Mengenal Beliau Sebagai Utusan yang Membawa Tata Cara Beribadah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla”.
Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika mengutus seorang Rasul untuk menyampaikan perintah beribadah, juga mengutus Rasul tersebut untuk menyampaikan tata cara ibadah tersebut.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam,
  • Membawa perintah shalat dari Allah Subhānahu wa Ta’āla dan juga membawa tata caranya.
  • Membawa perintah puasa dari Allah Subhānahu wa Ta’āla dan juga membawa tata caranya.

Cara ibadah tidak diserahkan kepada akal kita masing-masing atau kepada budaya atau kepada guru kita.
Akan tetapi tata cara ibadah adalah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla melalui lisan Rasul-Nya shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dan Allah tidak menerima amal ibadah kecuali yang dilakukan sesuai dengan cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada dalilnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.”
(Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah)
Barang siapa yang mengaku sebagai pengikut Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka hendaklah dia mencukupkan diri dengan ibadah yang sudah Beliau ajarkan.
Tidak boleh dia membuat ibadah yang baru yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dan tidak boleh dia beribadah, kecuali setelah yakin bahwa dalilnya shahih.
Alhamdulillah, semua ibadah yang mendekatkan diri kita kepada surga telah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam ajarkan.
Beliau pernah mengatakan:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidaklah tersisa sesuatupun yang mendekatkan diri kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali sudah diterangkan kepada kalian.”
(Hadits ini shahih diriwayatkan oleh Thabrani di dalam Al Mu’jamil Kabir).
Lebih baik seseorang beribadah sedikit tetapi berdasarkan dalil yang shahih, daripada dia beribadah yang banyak akan tetapi tidak berdasarkan dalil yang shahih.

Bersambung

Kamis, 14 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 4) - Rasūlullāh Membawa Berita Dari Allāh

Kamis, 14 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3
Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 4)




Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Berita Dari Allāh  
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-4 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu “Mengenal Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam Sebagai Seorang Rasūl Yang Diantara Tugasnya Adalah Membawa Berita Dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai seorang utusan, diantara tugasnya adalah membawa berita-berita dari Allāh.
•Baik berita di masa lalu, seperti: kisah-kisah para Nabi & umat-umat terdahulu.
•Maupun berita di masa yang akan datang, seperti: kejadian setelah mati dan kejadian-kejadian di hari akhir.

Kewajiban kita sebagai seorang yang beriman adalah membenarkan berita-berita tersebut, bila memang dalilnya shahīh.
Allāh berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (٤)
“Dan tidaklah Beliau berbicara dari hawa nafsunya. Tidaklah ucapan Beliau kecuali wahyu yang diwahyukan kepada Beliau.”
(Q.S. An-Najm: 3-4)

Kalau kita benarkan Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam, maka sebenarnya kita telah membenarkan Allāh.
Dan kalau kita dustakan Beliau, maka sebenarnya kita telah mendustakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan dalil yang shahīh.
Apabila dalil yang shahīh sepertinya tidak masuk akal, maka ketahuilah bahwasanya kekurangan ada di dalam akal kita yang memang sangat terbatas, bukan pada dalil.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dikenal oleh kaumnya sebagai orang yang jujur semenjak sebelum Beliau diutus menjadi nabi.
Tidak pernah Beliau sekalipun berdusta;
  • baik kepada anak kecil, sebaya maupun kepada orang tua.
  • baik ketika bercanda maupun dalam keadaan sungguh-sungguh.


Apabila Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak berani untuk berdusta atas nama Beliau dan juga atas nama manusia, maka bagaimana Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berani berdusta atas nama Allāh Subhānahu wa Ta’āla Rabbul ‘ālamīn?




Bersambung.....

Rabu, 13 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 3) - Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Larangan Dari Allāh

Rabu, 13 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3
Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 3)




Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Larangan Dari Allāh 
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-3 dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah “Mengenal Beliau Sebagai Seorang Rasūl Yang Diantara Tugasnya Adalah Membawa Larangan-larangan Dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla”.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai seorang utusan membawa larangan-larangan dari Allāh Subhānahu Wa Ta’āla.
Beliau sampaikan larangan-larangan tersebut kepada kita semua supaya kita menjauhi.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ
“Apa yang aku larang maka hendaklah kalian jauhi.”
(H.R. Muslim)

Dan larangan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla ada 2 macam :
⑴ Haram
⑵ Makruh, yaitu dibenci

Haram
Larangan yang haram apabila dikerjakan maka berdosa, seperti :
• Berzina
• Membunuh tanpa haq
• Riba
• Berdusta
• Ghībah (membicarakan orang lain)
• Sihir
• Perdukunan
• Minum minuman keras
• Dan lain-lain.

Makhruh
Adapun larangan yang makruh, maka apabila dikerjakan perbuatan tersebut dibenci akan tetapi tidak sampai kepada dosa, seperti misalnya :
• Memakan bawang merah & bawang putih dalam keadaan masih mentah
• Makan minum dengan bersandar
• Tidur sebelum shalat ‘Isya
• Dan lain-lain.

Seorang Muslim dan juga Muslimah hendaklah meninggalkan larangan-larangan tersebut.
Dan yakin bahwasanya Allāh Subhānahu Wa Ta’āla tidaklah melarang sesuatu kecuali di sana ada hikmahnya dan ada kebaikan bagi diri kita.
Terkadang kita mengetahui hikmah tersebut dan terkadang kita tidak mengetahuinya.



Bersambung.....

Selasa, 12 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 2) - Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Perintah Dari Allāh

Selasa, 12 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3

Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 2)

Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam Membawa Perintah Dari Allāh 
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.



Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Mengenal Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah “Mengenal Beliau Sebagai Seorang Rasul yang Diantara Tugasnya Adalah Membawa Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla”.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam sebagai seorang utusan, membawa perintah-perintah dari Allah.
Beliau sampaikan perintah-perintah tersebut kepada kita supaya kita jalankan sesuai dengan kemampuan kita.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian maka hendaklah kalian kerjakan sesuai dengan kemampuan kalian”.
(H.R. Muslim)
Dan perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla ada 2 macam:
⑴ Wajib
⑵ Sunnah (dianjurkan)
Amalan Wajib
Amalan yang wajib apabila kita tinggalkan maka berdosa, seperti:
• Shalat 5 waktu
• Berpuasa Ramadhan
• Haji bagi yang wajib
• Memakai hijab bagi wanita
• dan lain-lain.
Maka ini adalah amalan-amalan yang wajib.
Amalan Sunnah
Adapun amalan yang sunnah apabila tidak dikerjakan seseorang tidak berdosa, seperti:
• Shalat rawatib
• Shalat dhuha
• Puasa Senin dan Kamis
• Puasa Nabi Dawud
• Dan juga amalan-amalan sunnah yang lain.
Kita kerjakan perintah-perintah tersebut sesuai dengan kemampuan kita.
• Bila kita tidak mampu shalat wajib dengan berdiri, maka kita duduk.
• Apabila seseorang tidak mampu melaksanakan sholat berjama’ah di masjid karena sakit, maka silakan dia melaksanakan shalat tersebut di rumahnya.
• Apabila seseorang tidak mampu berpuasa Ramadhan karena sakit atau bepergian, maka bisa dia ganti pada hari-hari yang lain.
• Orang yang tidak mampu shalat malam 11 raka’at, maka dia bisa shalat malam lebih sedikit dari itu.
• Demikian pula orang yang tidak mampu berpuasa Nabi Dawud ‘alayhissalām, maka bisa berpuasa dengan puasa yang lebih ringan dari itu.

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla tidaklah memerintah kita dengan sebuah perintah kecuali di dalam perintah tersebut ada hikmah dan juga kebaikan bagi kita semua.



Bersambung.....

Senin, 11 November 2019

HSI - S3 - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 1) - Pentingnya Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam

Senin, 11 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 3

Mengenal Rasūlullāh (Halaqah 1)

Pentingnya Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ’alayhi wa sallam  
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.

Halaqah yang Pertama dari Silsilah Mengenal Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah tentang “Pentingnya Mengenal Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam”.
Pertanyaan yang ke-2 yang setiap kita akan ditanya di alam kubur adalah tentang “Siapa Nabimu?”.
Wajib atas setiap Muslim dan Muslimah untuk mengenal Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Beliau adalah;
• Muhammad Ibnu ‘Abdillāh Ibnu ‘Abdil Muththalib.
• Termasuk keturunan Nabi Ismā’īl bin Ibrāhīm ‘alayhimāssalām.
• Lahir di Mekkah.
• Diutus menjadi Nabi yang terakhir ketika berumur 40 tahun, kemudian menyampaikan risalah Allāh Subhānahu wa Ta’āla selama 23 tahun.
• Meninggal di kota Madīnah setelah Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyempurnakan agama ini bagi Beliau dan juga umatnya.

Mengenal Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidaklah cukup hanya mengenal nama dan nasab Beliau, atau menghapal keluarga dan shahābat Beliau.
Mengenal Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah;
Mengenal tugas Beliau sebagai seorang utusan Allāh Subhānahu wa Ta’āla kepada kita.
⑵ Dan mengetahui apa kewajiban kita terhadap Beliau.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita dengan membawa 4 perkara:
■ PERKARA PERTAMA
Membawa perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita jalankan.
■ PERKARA KEDUA
Membawa larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita jauhi.
■ PERKARA KETIGA
Membawa berita dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita benarkan.
■ PERKARA KEEMPAT
Membawa tatacara ibadah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla supaya kita beribadah kepada Allāh dengan cara tersebut.

Kalau kita mena’ati Beliau di dalam 4 perkara ini, berarti kita pada hakekatnya telah menaati Allāh.
Karena perintah, larangan, berita dan cara ibadah adalah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Sedangkan tugas Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam hanyalah sekedar menyampaikan kepada kita.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ الله
“Barangsiapa yang menta’ati Rasul, maka sungguh dia telah mentaati Allāh.”
(Q.S. An Nisā: 80)

Dan pada halaqah-halaqah selanjutnya, in syā Allāh akan kita bahas satu per satu dari perkara di atas.


Bersambung.....

Jumat, 08 November 2019

HSI - S2 - Mengenal Allah (Halaqah 10) - Mengenal Allāh dengan Nama Dan SifatNya

Jum' at, 8 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 2
Mengenal Allah (Halaqah 10)



Mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dengan Nama Dan SifatNya 

Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.



Halaqah yang ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Mengenal Allah adalah tentang “Mengenal Allah Subhānahu wa Ta’āla Dengan Nama dan Sifat-Nya”.
Allah telah mengabarkan di dalam Al Quran bahwa Allah memiliki nama dan sifat.
Allab Subhānahu wa Ta’āla berfirman,
ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﺄَﺳۡﻤَﺎٓﺀُ ﭐﻟۡﺤُﺴۡﻨَﻰ
“Dan Allah memiliki nama-nama yang paling baik.”
(Q.S. Al-A’raf: 180)

Allah Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman,
ﻭَﻟِﻠَّﻪِ ﭐﻟۡﻤَﺜَﻞُ ﭐﻟۡﺄَﻋۡﻠَﻰ
“Dan Allah memiliki sifat-sifat yang paling tinggi.”
(Q.S. An-Nahl: 60)

Kita mengenal Allah dengan nama dan juga sifat tersebut.
✓Kita mengenal Allah sebagai Dzat Yang Maha Penyayang karena Dia adalah Ar Rahman, Ar Rahim.
✓Kita mengenal Allah sebagai Dzat Yang Maha Pengampun karena Dia adalah Al-Ghafur, dan seterusnya.
Allah juga mengabarkan di dalam Al-Quran bahwa di antara sifat Allah adalah:
• beristiwa’ di atas ‘Arsy
• bahwa Allah memiliki dua tangan
• bahwa Allah berada di atas
Turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam yang terakhir sebagaimana dikabarkan Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dan juga sifat-sifat yang lain.
Kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah menetapkan nama dan juga sifat tersebut, karena Allah lebih tahu tentang diri-Nya daripada kita semua.
Dan Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam lebih tahu tentang Allah daripada kita.
Tidak boleh seorang Muslim menolak nama-nama dan juga sifat-sifat tersebut.
Dan tidak boleh dia menyerupakan dengan selain Allah, karena Allah berfirman:
ﻟَﻴۡﺲَ ﻛَﻤِﺜۡﻠِﻪِۦ ﺷَﻰۡﺀٌ۬ۖ ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟﺴَّﻤِﻴﻊُ ﭐﻟۡﺒَﺼِﻴﺮ
Tidak ada yang serupa dengan Allah dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(Q.S. Asy-Syura: 11)
Jadi yang benar, yang seharusnya dilakukan oleh seorang Muslim adalah:
Menetapkan nama dan juga sifat tersebut sebagaimana datangnya, sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah, tanpa menyerupakan dengan selainnya dan tanpa mentakwil nama dan juga sifat tersebut.
Dengan demikian kita sudah menyelesaikan Silsilah Ilmiyyah yang ke-2 tentang Mengenal Allah dan insya Allah akan kita lanjutkan dengan Silsilah Ilmiyyah berikutnya, yaitu Silsilah Ilmiyyah yang ke-3 tentang Mengenal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kamis, 07 November 2019

HSI - S2 - Mengenal Allah (Halaqah 9) - Mengenal Allāh dengan MakhlukNya

Kamis, 7 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 2
Mengenal Allah (Halaqah 9)



Mengenal Allāh Subhānahu wa Ta’āla Dengan MakhlukNya 
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.




Halaqah yang ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Mengenal Allah adalah tentang “Mengenal Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan Makhluk-Nya”.
Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menciptakan makhluk-makhluk supaya manusia berakal memikirkannya, sehingga mereka mengenal Dzat yang telah menciptakan mereka.
Besarnya makhluk serta luasnya (seperti langit yang tujuh, bumi, kursi Allah, dan ‘Arsy-Nya) menunjukkan kebesaran Allah.
Keteraturan gerakan dan perjalanan (seperti perjalanan matahari dan bulan) menunjukkan kekuasaan dan pengawasan Allah yang tidak berhenti.
Kejelian di dalam penciptaan menunjukkan hikmah-Nya dan keluasan ilmu-Nya.
Manfaat yang ada dalam ciptaan-Nya menunjukkan rahmat pencipta yang luas dan menunjukkan karunia Allah yang meliputi segala sesuatu.
Allah berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآياتٍ لِأُولِي الْأَلْبابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيامًا وَقُعُوداً وَعَلى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا باطِلاً سُبْحانَكَ فَقِنا عَذابَ النَّارِ (١٩١)
“Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang yang memiliki akal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring. Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Wahai Rabb kami, tidaklah engkau menciptakan ini semua dengan bathil (sia-sia). Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari adzab neraka.”
(Q.S. Ali ‘Imran: 190-191)

Hendaknya seorang Muslim meluangkan waktunya untuk memikirkan makhluk-makhluk Allah supaya dia:
  • Semakin mengenal Allah, Pencipta-Nya,
  • Semakin yakin dan mantap dalam menjalankan syariat Islam,
  • Merasa takut dengan adzab Allah,
  • Semakin dekat dengan-Nya, dan
  • Semakin meng-Esakan Dia di dalam beribadah.


Bersambung.....

Rabu, 06 November 2019

HSI - S2 - Mengenal Allah (Halaqah 8) - Di Antara Kesyirikan Musyrikin Qurasy

Rabu, 6 November 2019
Halaqah Silsilah Ilmiah (HSI)
Silsilah 2
Mengenal Allah (Halaqah 8)


Di Antara Kesyirikan Musyrikin Qurasy
Disampaikan oleh Ust. Dr. Abdullah Roy, M. A. Hafidzahulloh.


Halaqah yang ke-8 dari Silsilah Ilmiyyah Mengenal Allah adalah tentang “Di Antara Kesyirikan Musyrikin Qurasy”.
Diantara bentuk kesyirikan mereka adalah:
• Berdo’a, meminta dan bertaqarrub kepada orang-orang shalih yang sudah meninggal.
• Menyerahkan sebagian ibadah kepada mereka dengan tujuan supaya:
⑴ Mendapatkan syafa’at orang-orang shalih tersebut disisi Allah.
⑵ Mencari kedekatan kepada Allah.
Allah sendiri telah menceritakan keyakinan mereka ini di dalam Al Quran dan Allah mengingkarinya.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka menyembah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak memudharati mereka dan tidak pula memberi manfaat. Dan mereka berkata, ‘Mereka adalah pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah.’

Katakanlah: ‘Apakah kalian akan mengabarkan kepada Allah sesuatu yang Allah tidak ketahui di langit maupun di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan.”

(Q.S. Yunus :18)



Dalam ayat ini Allah Subhānahu wa Ta’āla menamakan perbuatan mereka sebagai bentuk menyekutukan Allah.

Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
“Ketahuilah bahwa milik Allah-lah agama yang tulus. Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu, (mereka mengatakan) ‘Tidaklah kami menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah’ Sesungguhnya Allah akan menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta lagi sangat ingkar.”
(Q.S. Az Zumar: 3)
Ayat ini menunjukan bahwa tujuan mereka menyembah orang-orang shalih tersebut adalah supaya mereka mendekatkan penyembahnya kepada Allah.
Cara meraih syafa’at di hari kiamat adalah dengan memurnikan tauhid, bukan dengan kesyirikan.
Cara dekat dengan Allah adalah mendekatkan diri kepada-Nya dengan iman dan amal shalih, wajib maupun yang sunnah, sebagaimana orang-orang shalih tersebut melakukannya.
Tidak boleh seseorang menyamakan Allah dengan kepala negara yang sulit menyampaikan hajat kepadanya kecuali melalui perantara dan para pembantunya.
Tidak boleh seseorang menyerupakan Allah dengan siapapun karena Allah Subhānahu wa Ta’āla Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa.
Sedangkan seorang kepala negara, maka dia adalah makhluk yang lemah, tidak mampu melakukan seluruh pekerjaannya kecuali dibantu oleh para pembantunya.


Bersambung.....